Home Wisata Telusuri Jejak Sunan Kuning, Yang Merupakan Ulama asal China di Semarang

Wisata Telusuri Jejak Sunan Kuning, Yang Merupakan Ulama asal China di Semarang

Published on October 4th, 2017| by Siramers

0

Telusuri Jejak Sunan Kuning, Yang Merupakan Ulama asal China di Semarang

Sebutan Sunan Kuning, tentunya telah melegenda di benak warga Kota Semarang. Namun, ironisnya nama tokoh ulama penyebar Islam tersebut malah ‘tercoreng’, lantaran dipahami sebagai satu lokalisasi terbesar di ibu kota Jawa Tengah itu.

Telusuri Jejak Sunan Kuning, Yang Merupakan Ulama asal China di Semarang

Sunan Kuning diinterpretasikan sebagai satu kawasan yang terletak di kelurahan Kalibanteng Kidul, Semarang Barat. Sebab di area itu terdapat puluhan kompleks hiburan malam yang berdiri semenjak 1966 silam, namun,

Namun, kemasyhuran Sunan Kuning sebagai area bisnis esek-esek membuat orang lupa tentang siapa sebenarnya tokoh Sunan Kuning itu sendiri. Padahal, komplek Sunan Kuning dikenal sebagai area bernama Argorejo. Lebih tepatnya, komplek Resosialisasi Argorejo.

Lalu, siapa sebenarnya Sunan Kuning?

Sebutan Sunan, Islam di Nusantara disebarkan biasanya disematkan bagi tokoh Wali Songo yang. Sunan Kuning sebenarnya bernama Soen Ang Ing.

Yang berpindah-pindah tempat di Indonesia asal Tiongkok Nah, lidah orang Jawa mengatakan Seon Ang Ing dengan Sunan Kuning.

Islam di Semarang disebarkan tidak diketahui pastinya tahun berapa Soen Ang Ing berdakwah. Namun, penulis Remy Silado dalam buku “9 Oktober 1740: Drama Sejarah”, dalam catatan seorang Tionghoa di Semarang, Liem Thian Joe, menyebut bahwa Sunan Kuning sebenarnya memiliki nama populer Raden Mas Garendi.

Buku tersebut juga menyebutkan bahwa Sunan Kuning berasal dari kata Cun Ling (bangsawan tertinggi). Cun Ling sendiri adalah salah satu tokoh yang berperan krusial dalam peristiwa Geger Pacinan tahun 1740-1743.

Seperti yang tertulis pada lembaran Geger Pacinan 1740-1743, Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC, R.M. Daradjadi mengatakan Raden Mas Garendi bareng Kapitan Sepanjang (Khe Panjang) dan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) mengobarkan perlawan sengit terhadap VOC di wilayah kekuasaan Mataram. Selama berkuasa di Nusantara, perlawanan ini disebut sebagai pemberontakan terbesar yang dihadapi VOC.

Para pemberontak Jawa-Tionghoa menobatkan Raden Mas Garendi, atau Sunan Kuning sebagai Raja Mataram bergelar ‘Sunan Amangkurat V Senopati Ing Alaga Abdurahman Sayidin Panatagama’ pada 6 April 1742 di Kabupaten Pati Jawa Tengah. Kala itu, cucu Amangkurat III yang dibuang VOC ini baru berumur enam belas tahun –sumber lain mengatakan dua belas tahun. Ia pun dianggap sebagai raja orang Jawa dan Tionghoa.

Tags: ,



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top ↑